Aku adalah seorang remaja yang terhempas dalam kenyataan hidup ditengah arus globalisasi. Bisa dibilang aku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ibuku hanya seorang penjual sayur-sayuran di pasar dan sekeliling kampung. Pendapatan ibuku pun tidak seberapa, hanya cukup untuk sekali makan. Bisa dibilang juga, itu semua tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga. terlebih lagi aku mempunyai dua orang adik. Bapakku yang sehari hari membantu ibu berjualan, sambil mencari rumput buat kambing peliharaan. Kehidupan keluargaku yang serba kekurangan membuat kami harus lebih berhemat. Kedua adiku bersekolah. yang besar Masih duduk di bangku SMA, sedangkan adiku yang kecil dia di sekolahkan di Madrasah Iftidaiyah, Ibu sudah sangat bersyukur bila bisa menyekolahkan aku hingga lulus SMA. Namun aku mempunyai tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikanku hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Hari ini aku mendapat Surat dari kepala bagian keuangan karena aku sudah menunggak uang smester selama tiga bulan. Aku bingung harus berbuat apa agar bisa mendapatkan uang untuk membayar uang kuliahku. Aku sengaja tidak memberitahukan orang tuaku mengenai masalah ini. Aku takut orang tuaku akan sedih karena tidak bisa memenuhi kebutuhan kuliahku. Hal ini dikarenakan penghasilan orang tuaku yang hanya cukup untuk makan kami sehari-hari. Aku berinisiatif untuk mencari pekerjaan. Namun aku tidak mendapatkan satupun pekerjaan. Aku mulai putus asa. Namun di tengah keputusasaanku itu aku mendapatkan Tugas menjadi penjaga kampus serta kebersihan. Dari situ aku mendapatkan uang makan walau pun itu belum mencukupi kebutuhan sehari hari ku, karena pembayaran uang makan yang tidak menentu, kadang dua minggu sekali kadang satu bulan sekali, bahkan sampai 2 bulan tidak mendapatkan uang makan, tapi Aku sanggat bersyukur, ada tempat tinggal yang tampa harus mengeluarkan biaya. . Sekilas aku berpikir,”mungkin ini yang dinamakan takdir, selalu ada di kala susah maupun senang”. Uang yang aku terima tidak terlalu banyak hanya 150 selama dua minggu, dan itu masih sanggat kurang kalau buat makan sendiri aja, tapi aku tinggal di kampus tidak sendirian, kami saling membantu disaat susah maupun senang. Ibuku sangat bersyukur pada Tuhan karena aku sudah bisa belajar untuk lebih mandiri. Aku sangat senang bila ibuku pun senang. Disini aku menemukan orang yang baik sama aku saat pertama kenal,Tapi lama-kelamaan dia mulai menunjukkan sikap yang kurang baik padaku. Dia sering memarahiku padahal aku tidak membuat kesalahan. Mungkin dia iri padaku karena aku mendapat perlakuan yang lebih baik dari BM kampus dibandingkan dengannya. Hingga dia tega memfitnahku dengan sesuatu yang aku sendiri tidak merasa kalau aku melakukan kesalahan itu. Aku kecewa, aku putus asa, aku tidak tau harus berbuat apa lagi. Dimana aku harus mencari Jalan yang benar? Aku bingung Apa yang harus aku lakukan lagi? Mengapa hidupku harus berjalan seperti ini? Hanya pertanyaan semacam itu yang terlintas di pikiranku sepanjang jalan. Kebahagiaan yang aku rasakan hanya berlangsung sekejap. Entah ini hanya suatu kebetulan atau memang takdirku harus seperti ini. “Oh Tuhan… aku tidak sanggup”, ucapku dalam hati. Aku sungguh tidak menduga kenapa hidup di kota tak seindah di desaku. Seseorang yang aku kenal baik dan ramah ternyata hanya sebagai sampul depan saja. Sungguh aku sangat merasa kecewa. Tetapi biarkan sajalah, karena setiap orang memiliki catatan kebaikan dan keburukan tersendiri. Kini aku kembali dengan hari-hariku yang suram. Hari ini aku tidak bersemangat untuk kuliah karena aku terus memikirkan masa depan aku dan keluargaku yang sudah membiayaiku untuk kuliah dan kedua adikku. Itu karena sudah hampir 1 tahun aku kuliah di kampus ini, tapi aku belum begitu mengenal teman-temanku satu kampus. ada gadis bernama Mi**i, dia memiliki paras yang cantik, berjilbab, dan memiliki perilaku yang sopan saat aku mengenalnya. Apa yang aku rasakan? Sepertinya aku mulai jatuh cinta. Sejenak aku lupa akan masalah keluargaku. Aku berusaha mencari informasi yang lebih tentangnya. Saat dia mengetahui kalau aku menyukainya, dia menunjukkan sikap yang berbeda kepadaku. Dia menjadi kurang bersahabat. Aku yang penasaran dengan perubahan sikapnya itu pun lantas menanyakannya langsung padanya. Dia menceritakan alasan kenapa dia merubah sikapnya kepadaku. Lama-kelamaan kami mulai akrab kembali dan saling berbagi pengalaman hidup. Aku menceritakan tentang keadaan keluargeku. Dia merasa turut prihatin dengan keadaan keluargaku. Sejak saat itu dia mulai memberikan perhatian kepadaku. Dia sering memberikan motivasi yang sengat berguna bagiku. . Aku sungguh berterimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan jalan keluar terbaik bagiku atas segala masalahku. Dan hal ini juga tidak terlepas dari do’a ibuku yang menyertaiku setiap waktu, serta teman-temanku yang selalu memberikan dukungan kepadaku disaat aku merasa putus asa. Terimakasih Ya Allah Kau telah memberikan jalan serta semanggatku lagi,,,

Catatan Negeri Sp

Ngak terasa udah 20 taun ,idup di negeri ini, banyak cerita manis,pait,asem,kecut, campur aduk, di sini, udah  ke sana ke sini ke sono kemari, mencari arti kehidupan yang sesungguhnya, cari ilmu ngak kudu pake Duit, duit kalau gk buat cari ilmu, cuma sebatas jadi tai,

Selama ini, pemikiran wong banyak,hidup buat cari kesenangan dunia semata,,gk tau hidup di dunia hanya sementara ,

Di Negeri Sp dimana saya tinggal, orang tua tidak memikirkan pendidikan anak anaknya, meraka hanya memikirkan bagaimana ngumpulin harta sampai melimpah,hanya sebagian kecil orang tua yang menyekolahkan anak nya sampe ke jenjang yang lebih tinggi tinggi, . Kebanyakan lulus smp dah di suruh kerja, padahal kalau buat nyekolahkan duitnya ampe luber luber,

Dunia sementara 

Akhirat selamalamanya

memang kebanyakan di negeri sp anak yang seumuran saya udah pada punya motor, bahkan ada juga yang beli rumah, tapi masa iya kehidupannya cuma seperti itu, pergi pagi pulang malam gk kenal ujan,panas, harta di jadikan yang paling utama,.